Come from A Failure
“Bismillahirrahmaanirrahiim”, hal
yang mengawali seklumit ceritaku ini. Cerita tentang hal yang membuatku terus
berdiri hingga saat ini ,serta berawal dari do’a orang-orang yang selalu
mendukungku. Inilah ceritaku sobat.
Sebuah
kebahagiaan saat kita telah mampu menggenggam ijasah SMA/SMK/MA bukan?namun
yang lebih membuat kita merasa sempurna adalah saat kita mampu menapaki langkah
menuju jalan ilmu yang lebih luas lagi, yaps perguruan tinggi. Bagi kebanyakan
orang,kuliah itu hal biasa,lain halnya bagiku. Di desaku, kebanyakan generasi
muda berhenti di tingkat SMA.Dan yang memprihatinkan adalah sepuluh jari ini
terlalu banyak untuk menghitung siswa di dusun saya yang dapat melanjutkan ke
pendidikan tinggi. Yang jadi rumusan masalahnya adalah : Mengapa?
Allah
adalah Dzat Yang Maha Adil, saat seseorang memiliki harta yang banyak, Allah
menitipkan seorang anak yang mungkin pemalas,ataupun mereka sendiri para orang
tua yang takut tak mampu membiayai kuliah anaknya. Padahal realitanya mereka
mampu. Namun,saat seseorang hanya memiliki penghasilan pas-pasan , dan mungkin
untuk hidup sehari-hari saja kekurangan,
Allah menitipkannya seorang anak yang giat menuntut ilmu untuk terus
menggapai impiannya. Saat itulah,saya mungkin dapat dikatakan berada pada
kondisi nomor 2.Orang tua saya alhamdulillah saat ini dapat dikatakan mampu untuk
membiayai hidup sehari-hari,namun akan berbeda halnya jika harus membiayai
kuliah yang tentu tidak murah. Aku bersyukur atas apa yang Allah berikan untuk
hidupku ini. Aku punya Bapak yang selalu semangat banting tulang,meskipun apa
yang aku tahu jauh lebih berat baginya. Beliau pernah merantau di tanah
Sumatera Selatan untuk menjual sapu milik Juragan, bukan usaha kami sendiri.
Beliau menjajakan barang dagangannya keliling kampung di Sumatera. Saat beliau
merasa lelah,setelah 2-3 bulan, maka sesekali pulang ke tanah Jawa. Hal itu
berlangsung cukup lama sobat. Setelah sekian lama, akhirnya memutuskan untuk
kembali pulang ke tanah Jawa untuk mencoba usaha kaki lima. Beliau menjual es
campur dengan gerobak keliling . Beliau terus berusaha untuk memperjuangkan
pendidikan anak-anaknya,terutama aku sebagai anak pertamanya agar jangan sampai
hanya berhenti di tingkat SD seperti dirinya. Karena semangatnya itulah yang
membuatku malu untuk berputus asa saat kegagalan menghampiriku. Ibuku, seorang
ibu yang hebat, beliau menjadi pelita kala semangatku mulai redup, beliau yang
selalu menguatkanku kala jatuh. Tiada kata yang lebih indah kecuali
“Terimakasih Ibu dan Bapak tersayang”. Hingga saat ini, Ibu dan Bapakku lah
alasanku sampai di sini. Aku ingin menuntut ilmu, melihat dunia yang lebih
luas, dan melihat senyum mereka karena keberhasilanku atas apa yang telah
mereka usahakan selama ini untukku.
Lanjut
ya sobat,mereka yang kuliah dari dusunku adalah yang ingin mencari ilmu dan
orang tua mereka memiliki penghasilan lebih. Namun,entah mengapa keinginan untuk
kuliah terus menghujam , mengakar kuat dalam batinku. Aku ingin menjadi agen
perubahan bangsa ini dan menjadi bagian dari pelopor pendidikan Indonesia.
Paling tidak,aku ingin memajukan desaku. Selain bercita-cita sebagai akuntan,
aku bermimpi menjadi seorang dosen. Aku ingin masuk ke dalam hitungan jari
orang-orang yang berpendidikan di dusunku, meskipun aku belum tahu bagaimana caranya
untuk mewujudkan mimpi mimpi itu. Dulu, bapakku berpikir bahwa mungkin aku
hanya akan berhenti di SMK dan akan bekerja setelah lulus nanti.Beliau berpikir
agar meskipun nanti setelah aku lulus SMK tidak dapat melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi, aku memiliki keterampilan sebagai bekal hidup. Namun, aku
tak ingin menyerah dengan keadaanku saat itu. Teringat sebuah janji pada kedua orang tuaku sebelum
masuk SMK saat Bapak berkata ,” Win,
bapak mung bisa nyekolahna kowe gutul SMK , nek kowe kepengin terus ya ngemben
kowe kudu usaha dewek”(Win, bapak hanya mampu menyekolahkan kamu sampai
SMK, bila kamu ingin melanjutkan lagi, maka kamu harus berusaha sendiri). Saat
itu saya menjawab “ Insya Allah pak, nek
kulo sekolah malih kulo pengin sing mboten mbayar malah dibayar.” (“Insya
Allah pak,bila aku mampu kuliah nanti,aku ingin sekolah yang tidak bayar,malah
aku yang dibayar”). Entah mengapa ada satu orang yang selalu percaya bahwa
semua mimpi-mimpiku suatu saat akan terwujud, ya Ibuku. Mungkin karena itulah
aku bisa sampai di sini saat ini.Saat itu,aku hanya punya tekad dan semangat,
dan aku percaya pada kekuatan do’a dari
orang-orang yang terus mendukungku.
Perjalananku
hingga dapat bidikmisi berawal saat guru Bk di SMK-ku, Pak Afridian, memanggil untuk menemuinya di Ruang BK. Beliau
memotivasi saya dan menunjukan brosur-brosur perguruan tinggi ternama di
Yogyakarta dan Semarang. Beliau mensosialisasikan program bidikmisi ini kepada
saya secara langsung di ruangannya itu. Seperti mendapat angin segar setelah
sekian lama berada di ruangan yang pengap sobat, aku pun terus memikirkan
kata-kata beliau, hingga ku ceritakan semuanya pada ibuku. Beberapa lama
kemudian, aku mendaftar SNMPTN, namun ternyata tak semulus yang aku bayangkan.
Banyak kendala yang kami dapati,karena sekolah kami baru pertama kali ini ikut
SNMPTN ini. Setelah hari ujian kulewati,entah mengapa, yang terpikirkan dalam
benakku adalah apa yang akan kulakukan setelah lulus nanti. Bagiku, nilai
memang penting . Nilai itu laksana jembatan menuju sebuah tempat untuk melewati
arus yang deras. Arus deras sebagai perumpamaan untuk semua halangan kita dalam
meraih prestasi.Namun,apakah yang
terjadi saat kita belum tahu tempat mana yang akan kita pijaki setelah jembatan
itu sobat? Yang ada hanyalah kebingungan.
Maka kita harus memperkirakan tempat apa yang akan kita pijaki
setelahnya agar kita tak tersesat. Kita juga harus meniti jembatan itu dengan
penuh hati-hati agar kita tak terjatuh dalam arus deras yang akan membuat kita
gagal mencapai tempat yang kita inginkan.
Pengumuman SNMPTN pun tiba, betapa
berdebarnya jantungku saat itu. aku menanti pengumuman itu sejak jam 12 malam ,
namun ternyata baru muncul jam 1 siang. Aku melihat pengumuman di warnet dekat
desaku. Hasilnya, “maaf,,,,bla,,bla,,bla”...seperti dihantam badai di siang
bolong,rasanya dunia semakin kecil,sempit,dan nafasku mulai ku atur kembali
hingga keadaan normal. Maklum sobat, SNMPTN adalah satu-satunya harapanku
setelah aku melewatkan undangan PMDK dari Polines karena terlambat daftar. Aku
pulang dengan rasa lemas lunglai . Aku tak ingin melihat raut sedih di wajah
ibuku. Namun apalah daya, aku tak mampu menghindarkan lidahku dari jawaban
komputer warnet yang pasti akan mengecewakan orang-orang yang slalu
mendukungku.Lantas, ibuku mengatakan kata-kata yang sampai saat ini selalu ku
pegang “ Ndu,nek dadi rejekimu tulih
mengko ana dalane, wong urung dadi rejekimu kon kepriwe maning,tulih Gusti
Alloh lewih ngerti, sing penting wis usaha ikih.”(Nak, kalau nanti jadi
rejekimu, pasti ada jalannya, kalau belum jadi rejekimu harus bagaimana lagi,
Allah lebih tahu, yang penting kamu sudah berusaha). Namun, itu bukan berarti
kita harus mnyerah ya sobat, kita harus going
to the extra miles mengejar apa yang kita impikan.
Aku bercerita tentang SBMPTN pada
ibuku. Beliau menyarankanku untuk mencobanya,namun aku berkata tidak,dan aku
tidak mau. Pikirku saat itu adalah, SNMPTN saja tidak masuk,apalagi SBMPTN yang
kebanyakan soalnya adalah konsumsi anak SMA. Aku mungkin sudah di ambang
kegalauan. Aku memang mendaftar SBMPTN atas saran guru dan ibuku, namun aku
tidak mengikuti tesnya. Aku merasa menjadi pengecut kala itu karena mundur sebelum
perang . Beberapa hari kemudian, Aku mendapat informasi bahwa Akademi Akuntansi
YKPN Yogyakarta membuka pendaftaran melalui jalur bidikmisi. Namun, baru
pertama kali itu aku dengar AA YKPN. Aku mulai memiliki semangat baru,meski
setelah aku tahu itu Perguruan Tinggi Swasta. Karena pasti kebanyakan siswa
ingin mengenyam pendidikannya di Perguruan Tinggi Negeri,tak terkecuali aku.
Aku
mendaftar di AA YKPN dengan mengirimkan semua berkasku lewat pos, tanpa bantuan
guruku. Lain halnya dengan teman-temanku yang di antar sampai ke kampus AA YKPN
oleh guru mereka hanya untuk megumpulkan berkas pendaftaran. Aku berpikir, aku
memang harus mandiri kali ini dan inilah penentu langkahku berikutnya. Mungkin
aku akan berhenti jika aku menerima kegagalan lagi di AA YKPN. Sekian lama aku
menunggu pengumuman dari AA YKPN,dan akhirnya ada sepucuk surat yang
menghampiri tanganku dari Yogyakarta. Arrrrgh,, sayangnya, itu bukan pengumuman
bidikmisi,namun pengumuman yang menyatakan bahwa bila aku tidak diterima melalui jalur
bidikmisi,aku di terima melalui jalur prestasi akademik. Setelah beberapa
minggu kemudian,saat itu pagi hari sekitar jam 9, aku melihat ada missed call 2
kali dari AA YKPN. Aku pun akhirnya menelepon balik dengan penuh harap akan
jawaban yang kunantikan setelah begitu banyak kegagalan yang kulewati. Alangkah
senangnya diriku,saat Bagian Akademik mengatakan bahwa anda diterima melalui
jalur bidikmisi AA YKPN. Aku tidak lagi merasa sebagai produk yang gagal.
Alhamdulillah, sebuah jalan yang penuh liku,dan inilah jalanku. Beginilah cara
Allah menunjukan jalanku,memang bukan pada PTN yang ku impikan,namun di AA
YKPN. Awalnya aku ragu,karena ini PTS, namun guru Akuntansi ku berkata bahwa
PTN atau PTS saat ini bukan menjadi masalah,namun yang penting adalah kualitas
pendidikannya, AA YKPN memang swasta, namun pendidikan Akuntansi-nya yang
terbaik, dan menjadi rujukan Se-Jawa Tengah.Selang beberapa hari setelah
pengumuman dari AA YKPN, tetanggaku yang menjadi mahasiswi jurusan Sejarah di
Universitas Negeri Yogyakarta menyarankanku untuk mengikuti Ujian Mandiri di
UNY. Dia percaya bahwa aku mampu dan bisa masuk PTN. Namun sayangnya, aku telah
memantapkan diriku di AA YKPN dan aku percaya bahwa inilah jalan yang Allah siapkan untukku. Aku
tak peduli lagi PTN atau PTS kampus yang jadi tempatku menimba ilmu. Sejak saat
itu, aku mulai memantapkan niatku hingga saat ini sobat di Akademi Akuntansi
YKPN .
to be continue............