My Adventure

My Adventure

Minggu, 01 Maret 2015

Ceritaku



Ku tuliskan deretan kata yang menceritakan seklumit episode dalam hidupku. Beberapa hal yang tak ku inginkan menjadi cambuk untuk terus berlari mengejar mimpi. Semua hal baik yang terjadi, slalu kuingat dan kan terbingkai indah dalam lautan berkah. Barakallah...

Come from A Failure
“Bismillahirrahmaanirrahiim”, hal yang mengawali seklumit ceritaku ini. Cerita tentang hal yang membuatku terus berdiri hingga saat ini ,serta berawal dari do’a orang-orang yang selalu mendukungku. Inilah ceritaku sobat.
Sebuah kebahagiaan saat kita telah mampu menggenggam ijasah SMA/SMK/MA bukan?namun yang lebih membuat kita merasa sempurna adalah saat kita mampu menapaki langkah menuju jalan ilmu yang lebih luas lagi, yaps perguruan tinggi. Bagi kebanyakan orang,kuliah itu hal biasa,lain halnya bagiku. Di desaku, kebanyakan generasi muda berhenti di tingkat SMA.Dan yang memprihatinkan adalah sepuluh jari ini terlalu banyak untuk menghitung siswa di dusun saya yang dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi. Yang jadi rumusan masalahnya adalah : Mengapa?
Allah adalah Dzat Yang Maha Adil, saat seseorang memiliki harta yang banyak, Allah menitipkan seorang anak yang mungkin pemalas,ataupun mereka sendiri para orang tua yang takut tak mampu membiayai kuliah anaknya. Padahal realitanya mereka mampu. Namun,saat seseorang hanya memiliki penghasilan pas-pasan , dan mungkin untuk hidup sehari-hari saja kekurangan,  Allah menitipkannya seorang anak yang giat menuntut ilmu untuk terus menggapai impiannya. Saat itulah,saya mungkin dapat dikatakan berada pada kondisi nomor 2.Orang tua saya alhamdulillah saat ini dapat dikatakan mampu untuk membiayai hidup sehari-hari,namun akan berbeda halnya jika harus membiayai kuliah yang tentu tidak murah. Aku bersyukur atas apa yang Allah berikan untuk hidupku ini. Aku punya Bapak yang selalu semangat banting tulang,meskipun apa yang aku tahu jauh lebih berat baginya. Beliau pernah merantau di tanah Sumatera Selatan untuk menjual sapu milik Juragan, bukan usaha kami sendiri. Beliau menjajakan barang dagangannya keliling kampung di Sumatera. Saat beliau merasa lelah,setelah 2-3 bulan, maka sesekali pulang ke tanah Jawa. Hal itu berlangsung cukup lama sobat. Setelah sekian lama, akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke tanah Jawa untuk mencoba usaha kaki lima. Beliau menjual es campur dengan gerobak keliling . Beliau terus berusaha untuk memperjuangkan pendidikan anak-anaknya,terutama aku sebagai anak pertamanya agar jangan sampai hanya berhenti di tingkat SD seperti dirinya. Karena semangatnya itulah yang membuatku malu untuk berputus asa saat kegagalan menghampiriku. Ibuku, seorang ibu yang hebat, beliau menjadi pelita kala semangatku mulai redup, beliau yang selalu menguatkanku kala jatuh. Tiada kata yang lebih indah kecuali “Terimakasih Ibu dan Bapak tersayang”. Hingga saat ini, Ibu dan Bapakku lah alasanku sampai di sini. Aku ingin menuntut ilmu, melihat dunia yang lebih luas, dan melihat senyum mereka karena keberhasilanku atas apa yang telah mereka usahakan selama ini untukku.
Lanjut ya sobat,mereka yang kuliah dari dusunku adalah yang ingin mencari ilmu dan orang tua mereka memiliki penghasilan lebih. Namun,entah mengapa keinginan untuk kuliah terus menghujam , mengakar kuat dalam batinku. Aku ingin menjadi agen perubahan bangsa ini dan menjadi bagian dari pelopor pendidikan Indonesia. Paling tidak,aku ingin memajukan desaku. Selain bercita-cita sebagai akuntan, aku bermimpi menjadi seorang dosen. Aku ingin masuk ke dalam hitungan jari orang-orang yang berpendidikan di dusunku, meskipun aku belum tahu bagaimana caranya untuk mewujudkan mimpi mimpi itu. Dulu, bapakku berpikir bahwa mungkin aku hanya akan berhenti di SMK dan akan bekerja setelah lulus nanti.Beliau berpikir agar meskipun nanti setelah aku lulus SMK tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, aku memiliki keterampilan sebagai bekal hidup. Namun, aku tak ingin menyerah dengan keadaanku saat itu. Teringat  sebuah janji pada kedua orang tuaku sebelum masuk SMK saat Bapak berkata ,” Win, bapak mung bisa nyekolahna kowe gutul SMK , nek kowe kepengin terus ya ngemben kowe kudu usaha dewek”(Win, bapak hanya mampu menyekolahkan kamu sampai SMK, bila kamu ingin melanjutkan lagi, maka kamu harus berusaha sendiri). Saat itu saya menjawab “ Insya Allah pak, nek kulo sekolah malih kulo pengin sing mboten mbayar malah dibayar.” (“Insya Allah pak,bila aku mampu kuliah nanti,aku ingin sekolah yang tidak bayar,malah aku yang dibayar”). Entah mengapa ada satu orang yang selalu percaya bahwa semua mimpi-mimpiku suatu saat akan terwujud, ya Ibuku. Mungkin karena itulah aku bisa sampai di sini saat ini.Saat itu,aku hanya punya tekad dan semangat, dan  aku percaya pada kekuatan do’a dari orang-orang yang terus mendukungku.
Perjalananku hingga dapat bidikmisi berawal saat guru Bk di SMK-ku, Pak Afridian, memanggil  untuk menemuinya di Ruang BK. Beliau memotivasi saya dan menunjukan brosur-brosur perguruan tinggi ternama di Yogyakarta dan Semarang. Beliau mensosialisasikan program bidikmisi ini kepada saya secara langsung di ruangannya itu. Seperti mendapat angin segar setelah sekian lama berada di ruangan yang pengap sobat, aku pun terus memikirkan kata-kata beliau, hingga ku ceritakan semuanya pada ibuku. Beberapa lama kemudian, aku mendaftar SNMPTN, namun ternyata tak semulus yang aku bayangkan. Banyak kendala yang kami dapati,karena sekolah kami baru pertama kali ini ikut SNMPTN ini. Setelah hari ujian kulewati,entah mengapa, yang terpikirkan dalam benakku adalah apa yang akan kulakukan setelah lulus nanti. Bagiku, nilai memang penting . Nilai itu laksana jembatan menuju sebuah tempat untuk melewati arus yang deras. Arus deras sebagai perumpamaan untuk semua halangan kita dalam meraih prestasi.Namun,apakah  yang terjadi saat kita belum tahu tempat mana yang akan kita pijaki setelah jembatan itu sobat? Yang ada hanyalah kebingungan.  Maka kita harus memperkirakan tempat apa yang akan kita pijaki setelahnya agar kita tak tersesat. Kita juga harus meniti jembatan itu dengan penuh hati-hati agar kita tak terjatuh dalam arus deras yang akan membuat kita gagal mencapai tempat yang kita inginkan.
            Pengumuman SNMPTN pun tiba, betapa berdebarnya jantungku saat itu. aku menanti pengumuman itu sejak jam 12 malam , namun ternyata baru muncul jam 1 siang. Aku melihat pengumuman di warnet dekat desaku. Hasilnya, “maaf,,,,bla,,bla,,bla”...seperti dihantam badai di siang bolong,rasanya dunia semakin kecil,sempit,dan nafasku mulai ku atur kembali hingga keadaan normal. Maklum sobat, SNMPTN adalah satu-satunya harapanku setelah aku melewatkan undangan PMDK dari Polines karena terlambat daftar. Aku pulang dengan rasa lemas lunglai . Aku tak ingin melihat raut sedih di wajah ibuku. Namun apalah daya, aku tak mampu menghindarkan lidahku dari jawaban komputer warnet yang pasti akan mengecewakan orang-orang yang slalu mendukungku.Lantas, ibuku mengatakan kata-kata yang sampai saat ini selalu ku pegang “ Ndu,nek dadi rejekimu tulih mengko ana dalane, wong urung dadi rejekimu kon kepriwe maning,tulih Gusti Alloh lewih ngerti, sing penting wis usaha ikih.”(Nak, kalau nanti jadi rejekimu, pasti ada jalannya, kalau belum jadi rejekimu harus bagaimana lagi, Allah lebih tahu, yang penting kamu sudah berusaha). Namun, itu bukan berarti kita harus mnyerah ya sobat, kita harus going to the extra miles mengejar apa yang kita impikan.
            Aku bercerita tentang SBMPTN pada ibuku. Beliau menyarankanku untuk mencobanya,namun aku berkata tidak,dan aku tidak mau. Pikirku saat itu adalah, SNMPTN saja tidak masuk,apalagi SBMPTN yang kebanyakan soalnya adalah konsumsi anak SMA. Aku mungkin sudah di ambang kegalauan. Aku memang mendaftar SBMPTN atas saran guru dan ibuku, namun aku tidak mengikuti tesnya. Aku merasa menjadi pengecut kala itu karena mundur sebelum perang . Beberapa hari kemudian, Aku mendapat informasi bahwa Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta membuka pendaftaran melalui jalur bidikmisi. Namun, baru pertama kali itu aku dengar AA YKPN. Aku mulai memiliki semangat baru,meski setelah aku tahu itu Perguruan Tinggi Swasta. Karena pasti kebanyakan siswa ingin mengenyam pendidikannya di Perguruan Tinggi Negeri,tak terkecuali aku.
Aku mendaftar di AA YKPN dengan mengirimkan semua berkasku lewat pos, tanpa bantuan guruku. Lain halnya dengan teman-temanku yang di antar sampai ke kampus AA YKPN oleh guru mereka hanya untuk megumpulkan berkas pendaftaran. Aku berpikir, aku memang harus mandiri kali ini dan inilah penentu langkahku berikutnya. Mungkin aku akan berhenti jika aku menerima kegagalan lagi di AA YKPN. Sekian lama aku menunggu pengumuman dari AA YKPN,dan akhirnya ada sepucuk surat yang menghampiri tanganku dari Yogyakarta. Arrrrgh,, sayangnya, itu bukan pengumuman bidikmisi,namun pengumuman yang menyatakan  bahwa bila aku tidak diterima melalui jalur bidikmisi,aku di terima melalui jalur prestasi akademik. Setelah beberapa minggu kemudian,saat itu pagi hari sekitar jam 9, aku melihat ada missed call 2 kali dari AA YKPN. Aku pun akhirnya menelepon balik dengan penuh harap akan jawaban yang kunantikan setelah begitu banyak kegagalan yang kulewati. Alangkah senangnya diriku,saat Bagian Akademik mengatakan bahwa anda diterima melalui jalur bidikmisi AA YKPN. Aku tidak lagi merasa sebagai produk yang gagal. Alhamdulillah, sebuah jalan yang penuh liku,dan inilah jalanku. Beginilah cara Allah menunjukan jalanku,memang bukan pada PTN yang ku impikan,namun di AA YKPN. Awalnya aku ragu,karena ini PTS, namun guru Akuntansi ku berkata bahwa PTN atau PTS saat ini bukan menjadi masalah,namun yang penting adalah kualitas pendidikannya, AA YKPN memang swasta, namun pendidikan Akuntansi-nya yang terbaik, dan menjadi rujukan Se-Jawa Tengah.Selang beberapa hari setelah pengumuman dari AA YKPN, tetanggaku yang menjadi mahasiswi jurusan Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta menyarankanku untuk mengikuti Ujian Mandiri di UNY. Dia percaya bahwa aku mampu dan bisa masuk PTN. Namun sayangnya, aku telah memantapkan diriku di AA YKPN dan aku percaya bahwa  inilah jalan yang Allah siapkan untukku. Aku tak peduli lagi PTN atau PTS kampus yang jadi tempatku menimba ilmu. Sejak saat itu, aku mulai memantapkan niatku hingga saat ini sobat di Akademi Akuntansi YKPN .

 to be continue............


 

Kamis, 13 November 2014

rangkuman ceramah KH Zainudin 1

Rangkuman Ceramah KH Zainudin MZ
TEMA  : PENGHUNI SURGA   
        
Ø  luasnya surga seluas langit dan bumi, 7 lapis langit dan bumi
Ø kebun yang tanamannya berupa tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang banyak, tidak akan putus/ habis -dipetik keluar lagi , dan tdk terlarang utk memetiknya, (QS ar rahman 54),  QS Al waqiah 32-33
Ø  pohon memiliki akar diatas,buahnya kebawah
Ø  bangunannya bertingkat ,sesuai amalan org yg masuk di dalamnya QS al furqon:10,    dibawahnya mengalir sungai sungai,, airnya dapat berupa sungai madu,arak,susu
Ø  baunya surga bisa dicium dari jarak 40/70 th perjalanan
Ø  mereka para penghuni surga juga makan , minum
Ø surga tiada pernah terlihat/terbayang dalam hati seseorang,apalagi terlihat di matanya
Ø  pakaian penghuni surga adalah sutra lembut tebal hijau
Ø  masuknya melalui pintu royyan ,,,tidak boleh masuk sembarangan, kecuali org yg  berpuasa, baabus sodaqoh, pintu2 yg sesuai amalannya
Ø penghuni surga muda muda,cakep cakep,umurnya 33th,,hati mereka menjadi 1, tdk ada yg iri hati,dengki,
Ø  selalu senang dan bahagia, tiap hari rasanya itu saja,,,berbeda dengan di dunia
Ø fisiknya tdk ada yang cacat,jasmani/rohani,sempurna,cukup,,, merka sempurna ketika masuk surga meskipun semasa hidupnya kurang sempurna

selain itu,,hal yang penting bagi kita adalah bahwa Allah Swt lebih menyukai amalan yang kecil tapi dilakukan secara rutin daripada amal yang besar namun tdk rutin.